Leptospirosis Penyakit dari Tikus yang Sering Dianggap Sepele

Leptospirosis Penyakit dari Tikus

Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, dan biasanya ditularkan melalui air atau tanah yang tercemar urin tikus. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai, di karenakan penyakit ini menyebabkan beberapa gejala mulai dari ringan seperti demam dan nyeri otot hingga berat seperti gagal ginjal dan perdarahan paru yang fatal. Penyakit ini sering terjadi pada saat musim hujan dan daerah dengan sanitasi yang buruk.

Leptospirosis bisa menyerang siapa saja, tetapi beberapa kelompok masyarakat memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi. Mereka yang sering beraktivitas di luar ruangan, seperti petani, petugas kebersihan, pemulung, serta warga yang tinggal di daerah rawan banjir atau dengan sanitasi yang buruk, harus lebih waspada. Anak-anak yang bermain di genangan air dan individu dengan luka terbuka juga rentan tertular jika terpapar air atau tanah yang telah tercemar urin tikus.

Risiko penularan leptospirosis biasanya meningkat pada musim hujan, saat curah hujan tinggi menyebabkan banyak genangan air dan banjir. Kondisi lembap dan kotor memicu peningkatan populasi tikus, sehingga bakteri Leptospira lebih mudah menyebar di lingkungan sekitar. Air hujan yang bercampur dengan urin tikus bisa mengalir ke rumah, selokan, atau sawah, dan menjadi jalur penularan yang tidak terlihat. Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan, terutama saat musim hujan tiba.

Kasus leptospirosis di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebar di beberapa wilayah dengan angka yang berbeda-beda. Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu sebanyak 165 kasus, diikuti oleh Kabupaten Sleman dengan 53 kasus, Kabupaten Kulonprogo 32 kasus, Kota Yogyakarta 21 kasus, dan Kabupaten Gunungkidul 11 kasus. Penyebaran kasus yang cukup signifikan ini terjadi karena beberapa faktor lingkungan dan sosial.

Leptospirosis masih menjadi masalah utama terutama di wilayah-wilayah tersebut karena kondisi lingkungan yang mendukung berkembangnya bakteri Leptospira. Curah hujan yang tinggi dan adanya genangan air mempermudah penyebaran bakteri melalui media air dan tanah yang tercemar urine hewan pembawa, khususnya tikus. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi yang buruk juga menjadi penyebab utama tingginya angka kasus. Kepadatan pemukiman dan kurangnya pengendalian populasi tikus memperparah risiko penyebaran penyakit ini di daerah-daerah tersebut.

Leptospirosis memang berbahaya, tapi kabar baiknya penyakit ini bisa dicegah. Kuncinya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah tikus berkembang biak di sekitar tempat tinggal kita. Masyarakat memiliki peran besar dalam memutus rantai penularan penyakit ini. Berikut beberapa langkah sederhana namun efektif yang bisa kita lakukan bersama:

  1. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
  2. Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar aman dari jangkauan tikus
  3. Membersihkan lingkungan dan memberantas tikus di rumah maupun tempat umum seperti pasar, terminal, dan tempat rekreasi
  4. Segera mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di area berair atau setelah membersihkan lingkungan 
  5. Menggunakan alas kaki saat beraktivitas di tempat berair, berlumpur, atau di genangan air yang kemungkinan tercemar urin tikus
  6. Mengelola limbah rumah tangga dengan benar, termasuk menutup rapat tempat sampah

 

Mari, bersama wujudkan lingkungan yang sehat, bebas tikus, dan bebas penyakit. Karena mencegah jauh lebih mudah dan murah daripada mengobati. Tetap waspada, tetap sehat!

Sumber : Dinas Kesehatan DIY
Oleh : Natasha Hermalia Putri